Saturday 10 December 2022
spot_img

Tak Perlu Berdebat, Mari Memahami Substansi ‘Local Lockdown’ di Soppeng

Jagat dunia maya terlihat ramai dengan perbincangan mengenai kebijakan menutup perbatasan yang ditempuh Pemkab Soppeng dalam memutus mata rantai COVID19 di wilayahnya.

Pro kontra terjadi. Hal itu menjadi wajar karena kebijakan itu memang terkesan menyusahkan bagi daerah dengan perantau besar seperti Soppeng. Apalagi kebijakan local lockdown itu ditempuh bertepatan dengan ramadhan dan lebaran tahun ini. Benar saja, baru beberapa jam diterapkan pada Senin (11/5/2020) dinihari, pemudik dari Sulteng sudah mengetes pintu perbatasan. 10 orang pemudik akhirnya dikarantina.

Kita tentu memahami betapa sulitnya posisi Pemkab Soppeng dalam situasi ini. Mereka mengetahui, semua kasus positif COVID19 di Soppeng adalah kasus kiriman dari banyak klaster. Mereka dibiarkan melenggang masuk tanpa pemeriksaan dan terjadilah penularan ke warga yang kontak dengan mereka. Local transmission kemudian terjadi yang ditularkan dari carrier yang immunya tinggi. Seperti kutu loncat yang lompat dari batang satu ke batang lain.

Kondisi itu membuat tak banyak pilihan bagi Pemkab kecuali mengunci habis perbatasannya. Di sisi lain, dengan pandemi yang massif di Indonesia, bertahan di perantauan juga bukan hal yang nyaman. Biaya hidup lebih tinggi dibanding kembali ke Soppeng yang murah biaya. Di Makassar misalnya, sekali makan sangat sederhana bisa menghabiskan minimal Rp 15.000, tapi di Soppeng bisa gratis.

Tentu ini pilihan sulit. Tetapi, pilihan harus diputuskan. Melindungi sekira 250.000 warga di Soppeng jauh lebih di atas. Toh, kemudian Pemkab memberi kelonggaran. Jika tetap ingin ke Soppeng, silahkan lakukan tes cepat di tempat asal yang biayanya tak sampai Rp 200.000. Jika negatif, mintalah surat keterangan jalan di kepala desa atau lurah setempat.

Kebijakan yang ditempuh Pemkab Soppeng adalah kebijakan terbaik dari semua pilihan kebijakan yang tersedia. Pemkab kini memang punya alat tes PCR yang lebih akurat. Tetapi, melakukan tes cepat pada semua pendatang saat diperbatasan bukanlah pilihan terbaik. Coronavirus bukan saja persoalan virus yang menetap di dalam tubuh, tetapi juga di barang-barang yang melekat pada individu.

Coronavirus bukan sekedar virusnya itu sendiri, tetapi juga yang lebih penting adalah kedisplinan kita semua untuk menjaga kesehatan dan kepatuhan atas semua instruksi protokol kesehatan adalah di atas segalanya. Jika masih tetap tak mau tunduk pada semua itu, maka karantina bukan sekedar untuk mematikan virus dalam masa inkubasi 14 hari tetapi lebih dari itu karantina adalah efek jera bagi mereka yang tak mau patuh.

Dr. Nurmal Idrus, MM
CEO PT. Terkini Media Com

Artikel Terkait
- Advertisment -

Tetap Terhubung

512FansSuka
0PengikutMengikuti
26PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terpopuler

Komentar Terbaru