Saturday 10 December 2022
spot_img

Siapa Berbohong, NA atau Sari?

NURDIN ABDULLAH BERSAKSI SECARA VIRTUAL – Gubernur Sulsel non aktif Nurdin Abdullah bersaksi di PN Makassar atas terdakwa Agung Sucipto. NA membantah semua tuduhan kepada dirinya. (detik)

CELEBESTERKINI.com, Makassar – Fakta dalam lanjutan persidangan kasus gratifikasi dan suap proyek infrastruktur di Sulsel yang melibatkan Gubernur Sulsel non aktif Nurdin Abdullah (NA) yang mendudukkan terdakwa Agung Sucipto, di PN Makassar, Kamis 10 Juni 2021, mengungkap adanya salah satu saksi yang berbohong.

Kesaksian Nurdin Abdullah dan mantan Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Pemprov Sulsel, Sari Padjiastuti yang telah bersaksi di sidang sebelumnya, jauh panggang dari api. Nurdin dan mantan anak buah kesayangannya itu, saling bantah tak mengakui perbuatannya. NA dalam sidang kemarin, membantah atas nama Allah ia pernah memerintahkan Susi untuk mengatur proyek.

Sebelumnya, saat bersaksi di Sidang digelar di ruangan Harifin Tumpa, Pengadilan Negeri Makassar, Kamis, 27 Mei 2021 lalu, Sari tidak mengelak soal uang pemberian dari kontraktor. Uang itu sebagai imbalan terima kasih para kontraktor karena sudah dimenangkan pada proses tender.

Dalam persidangan, Sari Pudjiastuti mengaku diberi uang dari empat kontraktor. Mereka adalah Haji Indah Rp 60 juta, Andi Kemal Rp 50 juta, Haji Momo Rp 35 juta, dan Agung Sucipto Rp 60 juta.

Para kontraktor ini adalah pemenang sejumlah proyek di Sulsel. Diantaranya, pengerjaan Jalan Bua-Rantepao, Jalan Palampang-Munte-Bontolempangan II, Jalan Panampang-Munte-Bontolempangan I, dan beberapa proyek di Kabupaten Wajo. “Yang terakhir dari Pak Anggu Rp 60 juta. Saya Rp 25 juta, sisanya buat pokja dibagi-bagi,” kata Sari Pudjiastuti.

Satu Pokja ada yang Rp 15 juta per orang. Ada juga yang Rp 7 juta per orang. Pokja II, kata Sari kebagian Rp 15 juta. Sementara anggota Pokja VII itu Rp 7 juta per orang.

Semua itu, kata Sari, atas intervensi Gubernur Sulawesi Selatan non aktif Nurdin Abdullah. Tapi para kontraktor ini tetap melalui proses tender, sama seperti perusahaan lainnya. “Kalau intervensi oleh Gubernur selalu ada. Tapi karena seleksi terbuka, jadi ya tetap harus sesuai kriteria. Beliau (NA) selalu ada titip (kontraktor). Tapi saya mengartikan sebagai perintah,” kata Sari.

Sari Pudjiastuti (ist)

Sari bahkan dipanggil khusus ketika diminta memenangkan perusahaan tertentu. Di tahun 2020 lalu, dia sempat diminta menghadap Nurdin Abdullah, di kediaman pribadinya di kompleks perumahan dosen Unhas. “Berapa kali dipanggil di perumahan dosen, rumah pribadinya (NA). Melalui ajudan Pak Syamsul Bahri, saya harus datang,” tambahnya.

Pemanggilan itu berkaitan dengan proyek dari dana DAK di bulan Februari 2020. Yakni pengerjaan jalan Palampang-Munte-Bontolempangan II. Proyek dengan besaran nilai Rp 16 miliar itu dimenangkan oleh Agung Sucipto. “Ketika bertemu, pertama, beliau selalu menanyakan progres tender. Kemudian, setelahnya beliau mengatakan kontraktor yang mengerjakan jalan untuk ruas jalan Munte dipercayakan kepada Pak Agung,” bebernya.

Namun, kesaksian Sari yang diberikan di bawah sumpah kitab suci itu, dibantah semua oleh Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) nonaktif Nurdin Abdullah. Ia membantah telah menerima sejumlah uang dari kontraktor proyek. Nurdin bersumpah bahwa kesaksian eks Kabiro Pengadaan Barang dan Jasa Sulsel Sari Pudjiastuti yang menyebut Nurdin menerima dana dari kontraktor adalah fitnah.
Nurdin hadir secara virtual sebagai saksi di persidangan terdakwa Agung Sucipto alias Anggu di Pengadilan Negeri (PN) Makassar, Kamis (10/6/2021).

Jaksa menanyakan Nurdin soal kesaksian Sari yang mengaku diperintahkan Nurdin meminta uang dari kontraktor. “Ibu Sari mengatakan selain saudara mengarahkan memenangkan perusahaan, saudara juga menerima uang,” kata jaksa KPK kepada Nurdin Abdullah dalam sidang.

Nurdin langsung membantah semua kesaksian Sari dalam sidang sebelumnya. “Demi Allah, JPU, itu Ibu Sari memfitnah saya,” kata Nurdin Abdullah.

Di awal kesaksian Nurdin Abdullah, jaksa KPK juga mengkonfrontasi Nurdin soal beberapa kali memanggil Sari ke rumah pribadi di Perumahan Dosen (Perdos) Unhas. Jaksa KPK bertanya, apakah benar Nurdin memanggil Sari ke rumah pribadi untuk menitip memenangkan pengusaha tertentu yang mengikuti tender proyek. “Ini kami tanyakan, kami mohon jujur, karena ini di persidangan sebelum nya kami juga pernah memeriksa Ibu Sari, terkait pemanggilan ke rumah saudara di perumahan dosen, ini kami minta kejujuran saudara. Apakah saat saudara memanggil ibu Sari ada saudara sampaikan ke ibu Sari paket mana saja yang dimenangkan perusahaan tertentu?” tanya Jaksa KPK lagi.

Lagi-lagi Nurdin Abdullah bersumpah dan membantah keterangan Sari. “Saya bersumpah JPU, bahwa ibu Sari tidak memberikan penjelasan yang sesungguhnya tentang saya,” tegas Nurdin.

Nurdin mengaku kecewa dengan keterangan Sari di persidangan sebelumnya yang menuding dirinya menitip dan mengarahkan untuk memenangkan pengusaha peserta tender pada proyek tertentu di Sulsel. “Saya sangat kecewa, kok tiba-tiba orang ini lupa semua, padahal saya sudah memberikan contoh yang baik,” kata Nurdin Abdullah.

Lalu, siapa yang berbohong??
(int-dtc-ss/sah)

Artikel Terkait
- Advertisment -

Tetap Terhubung

512FansSuka
0PengikutMengikuti
26PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terpopuler

Komentar Terbaru