Monday 26 September 2022
spot_img

Poros Camba Macet Total, Bulu Dua Berkubang, Jiwa Menangis Jajal Tol Jawa

SEMPIT – Jalur Makassar – Bone via Camba senantiasa menyisakan derita bagi penggunanya. Sempitnya ruas dan kelokan tajam membuat truk raksasa kesulitan menaklukkannya sehingga terkadang mogok melintang jalan. Belum ada solusi pasti. Celebesterkini.com, menurunkan tulisan bersambung dengan membandingkannya ruas antar wilayah di Pulau Jawa yang dihubungkan Tol Jawa. (gmap)

CELEBESTERKINI.com, Surabaya – Berita kemacetan ruas utama Makassar – Bone via Camba, mewarnai jagat media sosial dalam beberapa hari ini. Jalur ramai nan sempit ini, nyaris setiap hari menyisakan derita bagi penggunanya yang sebagian besar didominasi warga Bone, Soppeng dan Wajo. Saban hari, ribuan truk raksasa yang menyalurkan distribusi barang, berjibaku menaklukkan ruas jalan nasional sempit dan berkelok ini.

Harapan untuk terpecahnya masalah di Jalur Camba sempat menumbuhkan asa ketika Proyek Elevated Road yang dikenal sebagai Jalan Layang Camba, dibangun di Bantimurung. Kawasan ini memang menjadi ‘sambutan’ awal yang sulit bagi pengendara yang akan melewati jalur ini.

Jalan layang Camba dibangun sejak bulan Desember 2015. Semula, jalur ini sempit dan banyak tikungan tajam. Lalu dibangunlah jembatan sepanjang 314 meter dengan lebar 11 meter, pembangunan oprit dan jalan pendekat sepanjang 413 meter, dan pelebaran jalan sepanjang dua kilometer. Pembangunannya dilakukan oleh kontraktor PT. Wijaya Karya bekerja sama operasi dengan PT. Hutama Karya. Menghabiskan anggaran sekira Rp 167 miliar. Pengoperasiannya di mulai Juni 2018.

Elevated Road Bantimurung, menyelesaikan sedikit masalah di Poros Camba.

Dalam situs Kemen PUPR, Layang Camba ini disebut masih segmen 1 dan akan dilanjutkan dengan pekerjaan lanjutan menembus Taman Nasional Bantimurung – Karaengta. Warga dan pelintas mengenalnya sebagai Ale Kappang. Model Elevated Road masih akan dipakai di proyek selanjutnya. “Agar tak merusak kawasan hutan karena ini masuk kawasan Taman Nasional,” kata Menteri PUPR, Basuki Hadimulyono.

Setidaknya masih ada 8 tikungan tajam di Ale Kappang yang akan diterabas Kemen PUPR agar ruas ini tak lagi membuat menderita. “Kita kemungkinan juga akan membangun terowongan selanjang 1,7 KM agar kendaraan tak terlalu mendaki,” kata Gubernur Sulsel saat itu, Syahrul Yasin Limpo, saat meninjau Elevated Road, 9 Juni 2018.

Namun, rencana yang disusun seketika berantakan. Di awal 2020, pandemi COVID19 menghantam Indonesia yang membuat banyak anggaran harus direfocussing. Sebenarnya, belum jelas apakah anggaran untuk kelanjutan proyek Camba ini masuk dalam pergeseran. Namun melihat aktivitas pekerjaan di lapangan yang tidak ada lagi, maka harapan untuk menjajal jalur Camba yang lebih landai dan mulus, tinggallah harapan.

“Harapan kita sangat besar, pak. Apalagi kita tahu Gubernur kita sekarang orang Bone. Bisalah sedikit berjuang agar kita orang dari Bone ini tak menderita sekali lewat jalur ini,” kata Rahmat Nati, seorang sopir truk ekspedisi yang hampir tiap hari melewati jalur ini, ketika ditemui di Warung Jabal Nur, Camba, 10 April 2021.

Pengacara muda asal Soppeng, Abdul Rasyid, juga mendorong agar Pemprov Sulsel memberi prioritas pada perbaikan jalan Camba. “Kita tahu ini jalan nasional, tetapi jika Pemprov Sulsel menginginkan ini bisa dijadikan prioritas usulan utama ke pusat mengingat sangat pentingnya peran poros ini,” kata Direktur LBH Cita Keadilan Soppeng ini, Kamis, 12 April 2021. Dua hari lalu, Rasyid turut jadi korban keganasan ruas Camba usai tertahan berjam-jam di Tompo Ladang. Sebuah truk kontainer mogok melintang di tengah jalan. Hingga akhirnya ia memutuskan balik kembali ke Makassar. (bersambung/sah)

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tetap Terhubung

512FansSuka
0PengikutMengikuti
26PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terpopuler

Komentar Terbaru