Monday 26 September 2022
spot_img

Penjagaan Longgar, Mudik Lebih Mudah

Sejak tanggal 6 Mei 2021 hingga 17 Mei 2021 mendatang, pemerintah memutuskan untuk membatasi pergerakan warga Indonesia dengan memberlakukan larangan mudik Idul Fitri 1442 H. CELEBESTERKINI.com, menguji kesiapan petugas di sejumlah titik penjagaan di Jalur Camba. Berikut laporannya:

KEBIJAKAN larangan melakukan mudik itu berlaku serentak dan dilaksankan oleh semua pemerintah daerah di Indonesia. Celebesterkini.com, Sabtu 8 Mei 2021, menjajal poros Camba yang menghubungkan beberapa daerah di jazirah Utara Sulsel. Boleh dikatakan inilah poros dengan titik penjagaan di Sulsel terbanyak. Laporan dan kondisi yang digambarkan dalam tulisan ini adalah gambaran kondisi saat kami melewati titik – titik posko itu. Tentu kondisinya kemungkinan bisa berbeda saat waktu setelah kami melewatinya.

Kami memulai perjalanan dari Kabupaten Soppeng pada sekira pukul 09.00 WITA. Berbekal surat tugas peliputan jurnalistik plus surat keterangan rapid test, perjalanan itu dimulai.

Titik penjagaan pertama yang ditemui adalah di perbatasan Soppeng – Bone di Amessangeng, Kecamatan Mariorowawo, Soppeng. Posko yang sempat digadang sebagai titik terketat memasuki dan keluar Soppeng ini, tak dinyana amat mudah dilewati. Ketika kami melewatinya, hanya ada dua petugas yang berjaga di bawah tenda. Berharap dihentikan, kendaraan kami melaju mulus tanpa pemeriksaan. Kami berpikir, mungkin karena kami mengarah keluar Soppeng maka pemeriksaan tak dilakukan. Kami tak mengetahui apakah pengendara yang dari arah sebaliknya yang akan memasuki Soppeng akan dihentikan.

Hanya sekira 200 meter dari posko Soppeng, posko penjagaan perbatasan Bone mengadang. Lokasinya di sebuah lapangan sepakbola di Lamuru. Di sini, mobil kami dihentikan. Seorang petugas TNI dengan ramah meminta berhenti. “Mohon maaf pak, kami mengganggu perjalanan. Ini hanya pengecekan biasa, silahkan turun melapor,” katanya.

Petugas melakukan pendataan pada pelintas di Perbatasan Bone 8211 Soppeng di Lamuru Menjadi satu satunya posko yang mendata

Mobil diparkir dan kami kemudian diarahkan ke sebuah tenda. Di tempat ini dua petugas meminta KTP dan surat tugas. Mengetahui tujuan kami ke Makassar, petugas hanya melakukan pendataan berupa nama dan alamat sesuai KTP. Setelah itu, langsung dipersilakan pergi.

Titik pantau perbatasan ketiga kami temui di Tanabatue. Poskonya berada di pinggir lapangan tepat di pertigaan menuju Sinjai. Tak ada penjagaan berarti di posko ini. Beberapa petugas yang berjaga hanya mendongakkan kepala sejenak ketika kami lewat dan membunyikan klakson.

Selepas perbatasan Bone – Maros di Mallawa, kami menemui satu titik pantau yang berada tepat di depan Polsek Mallawa. Namun, posko ini mungkin hanya untuk memantau. Pasalnya, tanda-tanda pemeriksaan perbatasan sama sekali tak ada. Kendaraan kami melaju bebas tanpa pemeriksaan begitu memasuki wilayah Maros.

Setelah posko Mallawa ini, tak ada lagi titik jaga. Namun, tak seperti biasanya kondisi jalur Camba yang biasanya padat, ramai dan macet sangat kontras ketika kami lewat saat itu. Lalu lintas super sepi dan hanya ada beberapa mobil truk logistik yang berpapasan dengan kami.

Ketika memasuki jalur Taman Nasional Karaengta atau biasa dikenal Ale Kappang yang selama ini selalu akrab dengan kemacetan, kendaraan kami melaju tanpa hambatan. Tak ada truk besar yang menghalang seperti biasa yang membuat laju kendaraan melambat. Kondisi sepi itu membuat kami bisa memacu kendaraan dengan cepat, apalagi kondisi jalan yang sudah sedikit mulus setelah dilakukan penambalan.

Posko penjagaan berikutnya kami temui di Bantimurung, yang berada tepat di depan pintu masuk Taman Wisata Bantimurung. Setali tiga uang, posko ini juga hanya dilewati begitu saja. Tak ada pemeriksaan dan mobil kami melaju mulus menuju Kota Maros.

Kami sebenarnya berharap akan ada pemeriksaan ketat ketika jelang memasuki Kota Makassar. Namun, setelah lepas dari berbatasan Maros – Makassar sebelum Simpang Lima Bandara, posko yang didirikan betul – betul hanya memantau. Jam menunjukkan 15.12 WITA ketika kami melewati posko itu. Sejumlah petugas hanya duduk di bawah tenda dan membiarkan kendaraan lewat tanpa ada pemeriksaan memasuki Kota Makassar.

Total ada enam titik posko perbatasan yang kami lewati. Satu di Soppeng, dua di Bone, dua di Maros dan satu di Makassar. Dari semuanya, hanya sekali kami dihentikan yaitu ketika memasuki wilayah Bone di Lamuru.

Jika menilik kondisi itu, sepertinya penjagaan perbatasan bukanlah sebuah hal yang perlu dikhawatirkan bagi mereka yang ngotot melakukan mudik. (tim)

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tetap Terhubung

512FansSuka
0PengikutMengikuti
26PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terpopuler

Komentar Terbaru