Saturday 10 December 2022
spot_img

Nasib Cungkok, Banting Harga dan tak Mengaku Cina karena Corona

FOTO: PSK asal cina yang diamankan kepolisian beberapa waktu lalu. (JAWAPOS)

CELEBESTERKINI – Efek virus corona yang melanda negeri Cina merambah kemana mana. Tak hanya membuat negeri ini terisolasi, para pekerja seks asal Cina yang sering disebut cungkok juga merana.

Di Jakarta, beberapa tempat hiburan malam yang sembunyi sembunyi mempekerjakan cungkok, kini sepi pelanggan. “Cungkok tak lagi banyak dicari. Mungkin pelanggan khawatir Corona,” kata seorang waitress di sebuah tempat hiburan malam di kawasan Gajahmada, Jakarta Barat, Senin.

Di beberapa negara kondisi itu juga terjadi. Seperti dilansir liputan 6, pekerja seks Cina mengaku bahwa mereka didiskriminasi karena virus corona, dan memilih berbohong mengenai profil mereka sehingga mereka mendapatkan lebih banyak pekerjaan.

Para pekerja seks Cina di Selandia Baru ini memilih untuk mengubah kewarganegaraan mereka menjadi orang Asia dalam iklan seks online dengan mengurangi tarifnya, yang semula dari $ 180, atau sekitar 2,5 juta menjadi $ 90, atau sekitar 1,3 juta.

Meskipun begitu, para wanita itu mengaku telah kehilangan lebih dari 50 persen bisnisnya sejak wabah virus corona.
Dilansir dari laman Daily Mail, salah seorang pekerja seks Cina secara anonim mengatakan kepada NZ Herald bahwa dia juga memangkas tarifnya di samping mengubah kewarganegaraannya dalam iklan seks online. Pekerja seks Cina, yang mengiklankan diri di newzealandgirls.co.nz mengatakan bahwa bisnisnya tidak pernah seburuk ini dari sebelumnya.

Orang-orang menolak untuk membayar jasanya meskipun dia adalah warga negara Selandia Baru yang belum kembali ke China selama delapan tahun.

Dia mengatakan pelanggannya melihatnya sebagai orang yang tidak berbeda dengan seseorang yang baru saja tiba dari Wuhan. “Saya tidak menyebutkan bahwa saya orang Tionghoa, dan saya menawarkan diskon besar, tetapi klien menghindari kami seperti kami adalah virus,” kata pekerja seks itu. 

Aktivis pekerja seks Dame Catherine Healy mengatakan saat ini adalah ‘waktu yang mengkhawatirkan’ bagi para pekerja seks. “Kami prihatin dengan kemampuan orang menghindari virus ini dan bertahan secara finansial,” kata Healy.  

Tidak ada larangan melakukan seks oleh WHO, namun The New Zealand Prostitutes Collective memperingatkan pekerja seks untuk mengikuti tindakan pencegahan yang dilakukan oleh Kementerian dan Organisasi Kesehatan Dunia. 

Pekerja seks Selandia Baru Lisa Lewis mengatakan dia harus memperhatikan pelanggan jika mereka memiliki gejala pilek atau flu. Dia juga meminta mereka menggunakan pembersih tangan setiap memegang uang. “Aku merasa mungkin mereka didiskriminasi yang tidak baik,” katanya. (lip6/mg2)

Artikel Terkait
- Advertisment -

Tetap Terhubung

512FansSuka
0PengikutMengikuti
26PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terpopuler

Komentar Terbaru