Mengapa Kotak Kosong Berbahaya

Home / Politik / Utama

Sabtu, 7 Maret 2020 - 11:31 WIB

Mengapa Kotak Kosong Berbahaya

Ilustrasi (panjimas)

CELEBESTERKINI – Tak ada yang menyangka, dominasi pasangan tunggal di Pilwali Makassar 2018, Munafri Arifuddin – Rahmatika Dewi, terpatahkan oleh lawannya, Kotak Kosong (KOKO).

Meski tak bergambar, KOKO Makassar ini membukukan angka dukungan rakyat Makassar dengan fantastis 54 persen, berbanding Appi – Cicu yang hanya mencetak 46 persen.

Di 2018 ada 15 daerah yang hanya satu paslon. Khusus di Sulsel ada tiga daerah. Selain Makassar, pilkada Enrekang dan Bone juga hanya menyisakan satu paslon. Khusus di Sulsel, hanya Makassar yang dimenangi KOKO. Di Bone dan Enrekang KOKO keok. Namun meski keok, KOKO di dua daerah itu memberikan perlawanan mengejutkan.

Di Enrekang, paslon tunggal Muslimin – Asman meraih 67,15 % atau 77.586 suara. KOKO melawan dengan keras dan meraih 31,03 % atau 35.826 suara. Di Bone, pasangan tunggal Fashar – Ambo Dalle dibuat ketar ketir. Keduanya meraih 232.955 suara atau menguasai 63,04% suara. Sementara kolom kosong 136.535 atau 36,95%.

Fenomena itu ditanggapi oleh Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus, sebagai fenomena ‘voters anger’. “Itu adalah wujud kemarahan voters atas munculnya KOKO. Mereka tak peduli bahwa KOKO itu halal di pilkada. Mereka menganggap bahwa itu adalah bentuk penzaliman atas demokrasi di daerahnya dan kemudian melampiaskannya dengan menusuk KOKO di TPS,” katanya.

Nurmal berpendapat bahwa sebenarnya KOKO bukanlah bentuk kemunduran demokrasi. Sebab selain memang dihalalkan oleh regulasi, juga KOKO muncul karena nilai demokrasi itu sendiri. “Pencalonan di pilkada itu kehendak rakyat yang diwakilkan ke partai politik. Jadi pilihan parpol kepada satu paslon adalah juga refresentasi pilihan rakyat,” tambahnya. Toh, kata Nurmal ada jalur lain yaitu jalur perseorangan yang murni menjadi jalur rakyat jika memang menginginkan ada banyak calon.

Ketika ditanyakan mengapa KOKO bisa seperkasa itu, Nurmal menyatakan bahwa ada banyak faktor yang memengaruhinya. “Pertama tentu paslon itu sendiri. Mereka kurang berhasil mempromosikan diri di tengah pemilih sehingga pemilih tak yakin dengan dirinya. Kedua, pemilih yang marah itu tadi. Mereka melampiaskan kemarahannya dengan mencari KOKO di kertas suara,” ujarnya.

Untuk itu, Nurmal punya resep bagaimana menundukkan KOKO ini. “Promosi massif di tengah pemilih diperlukan untuk meyakinkan bahwa pilihan kepada dirinya lebih baik dari KOKO. Tunjukkan dengan program yang menyasar langsung kebutuhan pemilih,” tukasnya. (mg2)

Share :

Baca Juga

Jempol, DPRD Soppeng Kembalikan Rp 700 Juta Untuk COVID-19

Daerah

Jempol, DPRD Soppeng Kembalikan Rp 700 Juta Untuk COVID-19
Tak Hanya Piawai Pegang Senapan, Brimob Kini Siap Jadi Petani

Utama

Tak Hanya Piawai Pegang Senapan, Brimob Kini Siap Jadi Petani
Alhamdulillah, Obat Peredam Corona Diperoleh. RI Beli 5 Juta Biji

Kesehatan

Alhamdulillah, Obat Peredam Corona Diperoleh. RI Beli 5 Juta Biji
Rapid Test Salah Baca, Paramedis RSUD Siwa Ternyata Negatif

Daerah

Rapid Test Salah Baca, Paramedis RSUD Siwa Ternyata Negatif
Gizi Diabaikan, Anak Cebol Makin Banyak

Daerah

Gizi Diabaikan, Anak Cebol Makin Banyak
Sulsel Masuk Skema Koalisi Permanen Golkar - Demokrat

Politik

Pilkada Serentak 2020
Sulsel Masuk Skema Koalisi Permanen Golkar – Demokrat
Kemarahan Kasatpol PP Makassar dan Sindiran Jokowi PSBB Kebablasan

Makassar

Kemarahan Kasatpol PP Makassar dan Sindiran Jokowi PSBB Kebablasan
Anggota DPRD Ini Ingatkan: Jangan Nikahkan Anak di Bawah 19 Tahun, Berimplikasi Pidana

Makassar

Anggota DPRD Ini Ingatkan: Jangan Nikahkan Anak di Bawah 19 Tahun, Berimplikasi Pidana
Chat Sekarang
Butuh Bantuan ?
Salam Kami Celebes Terkini.
Apa yang bisa kami bantu ?