Tuesday 06 December 2022
spot_img

Lawan Corona, Arab Saudi Berlakukan Jam Malam. Bisa Diterapkan di Indonesia?

Petugas membubarkan kerumunan warga di Kramatjati, Jakarta Timur, Minggu (22/3). Diusulkan pemberlakuan jam malam di Indonesia. (polresjaktim)

MAKASSAR, CELEBESTERKINI – Arab Saudi termasuk negara yang punya banyak cara untuk mencegah penyebaran COVID-19. Selain menutup pintu masuk perbatasannya dari luar, kini negara kerajaan menerapkan kebijakan darurat yaitu pemberlakuan jam malam. Mungkin bisa dicontoh Indonesia?

Jam malam itu mulai berlaku pada Senin (23/3) kemarin. Kerajaan Saudi memerintahkan diberlakukan jam malam mulai pukul 19.00 hingga pukul 06.00 pagi waktu setempat selama 21 hari ke depan. Aturan itu dikecualikan untuk pekerja sektor kesehatan, keamanan dan militer. Pemberlakuan jam malam dilakukan menyusul adanya penambahan kasus COVID-19 di Saudi pada Minggu (22/3) lalu. Saat itu, total ada 511 kasus COVID-19 di Arab Saudi.

Saudi sendiri sebelumnya telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan sebagai upaya mencegah penyebaran virus Corona. Misalnya menutup bioskop, mal dan restoran. Mereka juga menghentikan sementara penerbangan internasional juga domestik dan menghentikan umroh untuk tahun ini. Tak hanya itu, Otoritas Saudi bahkan menghentikan sementara ibadah salat berjemaah di seluruh masjid di wilayahnya, kecuali di Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Sementara itu, KBRI Riyadh menjelaskan peraturan jam malam sampai dengan sanksi yang akan diberikan. Sanksi terberat merupakan kurungan penjara. “Denda uang sebesar SR 10.000 (sekitar Rp 43,8 juta) bagi pelanggar. Denda tersebut dilipatgandakan dalam hal mengulangi pelanggaran. Pelanggaran ketiga bisa dihukum penjara selama 20 hari,” tulis KBRI dalam rilis resminya.

Namun, terdapat juga beberapa pengecualian terhadap orang atau kegiatan. Pengecualian jam malam tersebut ditujukan bagi:

  • Distributor bahan makanan, supermarket, toko swalayan, penjual ayam dan daging, pabrik, pengolahan makanan.
  • Apotek, klinik kesehatan, rumah sakit, laboratorium kesehatan, pabrik alat kesehatan.
  • Pengiriman barang, pergudangan, layanan logistik dan distribusi barang kesehatan dan pangan, aktivitas bandara dan pelabuhan, layanan pengiriman air bersih dan minum.
  • Pekerja sektor perdagangan online, karyawan hotel dan sejenisnya, pegawai pom bensin, layanan darurat perusahaan listrik.
  • Petugas asuransi ‘Najm’, asuransi kesehatan dan asuransi lainnya, petugas layanan internet dan jaringan, jasa layanan telekomunikasi.

Warga Makassar sendiri sepakat jika dilakukan hal sama di Makassar atau pun di Indonesia. “Daripada petugas pusing-pusing membubarkan warga yang nongkrong terapkan saja jam malam. Itu lebih tegas dan pasti,” kata Iwan Ridha, warga Makassar, Selasa (24/3). (mg2)

Artikel Terkait
- Advertisment -

Tetap Terhubung

512FansSuka
0PengikutMengikuti
26PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terpopuler

Komentar Terbaru