Tuesday 06 December 2022
spot_img

Kerajaan Eswatini, Negara yang Membolehkan Rajanya Punya Banyak Istri

FOTO: Presiden Joko Widodo dan ibu negara menerima kunjungan kehormatan Raja Mwaswi III di Jakarta, 2019 lalu.


CELEBESTERKINI – Tak ada yang salah ketika menikahi banyak wanita, apalagi jika memang bisa bersikap adil. Namun jika ia menikahi lebih dari sepuluh wanita maka itu sudah tak wajar.

Namun, salah satu kerajaan yang tersisa di Afrika, Eswatini, masih menerapkan sistem poligami. Bahkan, raja yang memimpin mereka sekarang, Raja Mswati III, diketahui memiliki 14 orang istri, dengan 24 orang anak. Raja Eswatini, Raja Mswati III. Raja dari negara antah berantah ini sempat melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Oktober 2019 lalu. Kedatangannya untuk menyampaikan selamat kepada presiden yang baru saja terpilih untuk periode keduanya. Saat itu, ia didampingi salah seorang istrinya yang entah istri keberapa.

Ibu negara Iriana Jokowi menyertai istri Raja Mwaswi III di Istana Negara, 2019 lalu.
Tak diketahui istri keberapa yang dibawanya ke Jakarta saat itu.

Kerajaan Eswatini sendiri adalah sebuah negara kecil yang terletak di Afrika Selatan, berdekatan dengan negara Mozambique. Dulunya, negara yang baru merdeka pada 1968 ini dikenal dengan nama Swaziland, sebelum berganti nama menjadi Kerajaan Eswatini di tahun 2018. Sejak dulu, mereka selalu dipimpin oleh seorang raja yang mengatur kepengurusan negara, walau sedang berada di bawah penjajahan Inggris sekalipun.

Hingga saat ini, Kerajaan Eswatini masih terus menganut sistem poligami. Sebenarnya, ada dua hukum pernikahan di negara tersebut. Dalam keterangan yang dipublikasikan oleh Refworld, bagian dari organisasi UNHCR, dijelaskan bahwa negara ini menganut hukum sipil yang didasarkan kepada hukum Roma-Belanda, juga hukum tradisional Swazi yang tidak tertulis.

Bila mengikuti hukum sipil, seorang pria sebenarnya hanya boleh memiliki satu orang istri saja. Kerajaan Eswatini juga tidak mengakui pernikahan non-sipil, termasuk pernikahan berdasarkan hukum Islam. Selain itu, poligami seharusnya juga semakin sulit dilakukan oleh masyarakat biasa, karena banyaknya mahar ternak yang harus diserahkan. Sementara, rakyat di negara itu tergolong miskin, dengan biaya hidup kurang dari 1 dolar AS per hari. Akan tetapi, pada praktiknya, masih ada banyak laki-laki yang mempraktikkan poligami di negara dengan tingkat prevalensi HIV/AIDS tertinggi di dunia tersebut (27,3 persen pada orang dewasa). Poligami juga tidak dipraktikkan oleh kalangan biasa saja, melainkan oleh keluarga kerajaan.

Pemimpin Eswatini, Raja Mswati III, diketahui memiliki 14 istri dan 25 orang anak. Jumlah ini masih berada di bawah ayahnya, Sobhuza II, yang memimpin Kerajaan Eswatini hingga 82 tahun. Sobhuza II disebut memiliki setidaknya 70 orang istri, 210 anak, dan 1.000 orang cucu. Face2Face Africa mengklaim, saat ini, klan Sobhuza II, yaitu klan Damini, terhitung mencapai 25 persen dari total populasi Eswatini.

Dalam laporannya, Face2Face Africa menjelaskan bahwa setiap tahunnya, Raja Mswati III diamanatkan untuk memilih seorang istri baru dari upacara tarian Umhlanga. Acara ini dihadiri oleh para gadis dan perempuan dewasa yang belum menikah dan belum mempunyai anak. Di tahun 2017, Mswati III menikahi Siphele Mashwama, seorang perempuan berusia 19 tahun, setelah menghadiri Umhlanga yang diikuti oleh sekitar 40.000 orang perempuan.

Bila menimbang bahwa Mswati III naik takhta di tahun 1986, seharusnya, saat ini sang raja sudah sudah memiliki 34 istri. Namun, walau tidak diketahui alasan jelasnya, sejauh ini raja berusia 51 tahun itu baru memiliki 14 orang istri.
Kerajaan Eswatini Raja Mswati III dari Swaziland dalam Uhmlanga pada 2015 di Lobamba, Swaziland.

Meski praktik poligami umum dilakukan di kerajaan tersebut, hal ini bukannya tidak mendapatkan kritik. Khususnya, di era pemerintahan Raja Mswati III yang suka hidup mewah, meski rakyatnya menderita.
Pada 2014, The Guardian melaporkan bahwa Mswati III menaikkan biaya kehidupan rumah tangganya menjadi 61 miliar dolar AS per tahun. Padahal, rakyat di kerajaan tersebut hidup dengan biaya kurang dari satu dolar per hari.

Selain itu, di tahun 2019, Raja Mswati III mendapat kritikan karena menghabiskan hingga sekitar 13 juta pound sterling (sekitar Rp 265 miliar) untuk membelikan mobil bagi semua istrinya. Hal ini pun mengundang kritik dari berbagai pihak, termasuk dari netizen yang mengetahui kabar tersebut.

Tak berhenti di situ, tradisi poligami di Eswatini juga pernah menjadi sorotan internasional karena beberapa hal. Menurut laporan news.com.au, di tahun 2013, Raja Mswati III menarik perhatian setelah Tintswalo Ngobeni, seorang perempuan yang saat itu berusia 22 tahun, melarikan diri untuk mencari suaka ke Inggris karena ‘takut’ dengan ajakan pernikahan dari sang Raja. Sebelumnya, di tahun 2002, Amnesty International juga menuduh Mswati III telah melanggar HAM setelah Zena Mahlangu, seorang perempuan berusia 18 tahun, hilang dari sekolahnya dan disebut dipaksa menikah. Mswati III dan Mahlangu menikah secara resmi di 2010. (kump/mal)

Artikel Terkait
- Advertisment -

Tetap Terhubung

512FansSuka
0PengikutMengikuti
26PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terpopuler

Komentar Terbaru