Saturday 10 December 2022
spot_img

Ini Tiga Hal yang Mengancam Matinya Budaya Bugis Makassar

FOTO: Suasana diskusi DKM bertema “Matinya Budaya Bugis Makassar” di Benteng Fort Rotterdam, Minggu (8/3). (Istimewa)

MAKASSAR, CELEBESTERKINI – Budaya Bugis Makassar dianggap mulai terancam keberadaannya. Itu ditandai dengan makin tergerusnya nilai-nilai yang menyertainya.

Ketua Dewan Kesenian Makassar (DKM) Erwin Kallo menyebut tiga hal yang bisa menandai datangnya ancaman kematian pada budaya leluhur itu. “Indikatornya ada tiga. Pertama karena bahasa daerah, dimana anak cucu kita sudah tidak menggunakan bahasa daerahnya. Tidak mengenal lagi bahasa daerahnya. Kedua, Artefak atau penemuan, apakah bukti history daerah kita masih dipertahankan dan dipelihara dan ketiga, adalah pola sikap, apakah masih sipakatau, masih sipakainga. Dari tiga indikasi ini menjadi bukti bahwa budaya Bugis dan Makassar itu terancam mati,” kata mantan calon walikota Makassar tahun 2013 ini ketika berbicara dalam diskusi bertema matinya budaya bugis makassar di Benteng Fort Rotterdam, Minggu (8/3).

Olehnya itu melalui diskusi ini, DKM berencana akan menggelar berbagai event dengan menonjolkan konten daerah Bugis dan Makassar. terutama kepada anak sekolah. “Kita akan gelar berbagai event dengan konten lokal, untuk mengenal kembali jati diri daerah kita. Karena selama ini terjadi pembunuhan budaya kita berawal dari kebijakan pemimpin daerahnya sendiri. Yang kerap menggunakan kalimat asing dengan melupakan kalimat daerahnya sendiri sebagai bahasa ibu.” ujar Erwin.

Budaya itu menurutnya adalah jendela, bagaimana mengenal budaya daerah sendiri kalau tidak pernah baca. “Nah, DKM akan hadir di situ mengisi kekosongan dari kebijakan pemerintah kita” lanjutnya.

Sementara Budayawan Prof. Qasim Mathar menilai bahwa budaya itu harus hidup dan ada nilainya. “Apakah sipakatau masih ada jangan sampai hanya sipakasiri. Sipakasiri lebih ditonjolkan daripada Sipakatau,” ujarnya.

Menurutnya kita punya budaya Taro Ada Taro Gau (sesuaikan kata dan perbuatan) budaya ini yang harus dilihat terlebih dahulu. Jadi menurutnya jika ingin melihat budaya itu masih hidup maka lihatlah prilaku hidup orang orangnya. Jangan sampai terjadi pergeseran. “Sebenarnya harus kembali ke mutu pendidikan dari pendidikanlah sehingga budaya kita bergeser. Misalnya seorang siswa melanggar, ada guru yang tindaki dan mengajarkan anak tentang kedisiplinan, kesopanan dan kepatuhan, moral dan etika. Tapi mereka justru diperhadapkan oleh hukum. Salah sedikit guru dihajar, guru dicaci maki bahkan digunduli di depan umum apakah itu juga bukan melanggar HAM?” ujar guru besar yang jago baca puisi ini.

Lebih lanjut disebutkan Berbeda dengan metode pendidikan dijaman dulu, kita bahkan segan dengan guru. Sekarang guru malah teraniaya. Disinilah awal dari pergeseran budaya kita. Orangtua tidak lagi menghargai guru, murid tidak lagi menghargai gurunya, karena terpengaruh oleh aturan yang dibuat secara global. Inilah yang tidak disadari. “Perlu diingat tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya rusak, begitu juga dengan guru tidak ingin melihat anak didiknya tidak berhasil. Mereka justru bangga ketika melihat anak didiknya sukses melebihi dirinya. Marwah inilah yang harusnya dikembalikan,” tutupnya. (mg3)

Artikel Terkait
- Advertisment -

Tetap Terhubung

512FansSuka
0PengikutMengikuti
26PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terpopuler

Komentar Terbaru