Home / Utama

Sabtu, 11 Januari 2020 - 12:20 WIB

Hidup Mewah Sang Komisioner

CELEBESTERKINI — Hidup mewah dengan harta berlimpah melingkupi kehidupan Komisioner KPU Wahyu Setiawan yang dicokok KPK dalam operasi tangkap tangan, Kamis.

Komisioner KPU Wahyu Setiawan yang resmi ditetapkan KPK sebagai tersangka ternyata memiliki rumah di perumahan termewah di Banjarnegara, Jateng. Rumah bergaya Jawa itu masih belum dihuni.

Seperti dikutip detikcom, rumah mewah itu berada di blok Marygold A5, A6 dan A7 di Graha Permai Land Kelurahan Kalibenda, Kecamatan Sigaluh, Banjarnegara. Terlihat seorang penjaga rumah berwarna coklat itu sedang merawat.

Blok A5 digunakan untuk garasi, A6 rumah utama dan A7 digunakan untuk pendapa. Dari luar terlihat di bagian dalam rumah sudah diisi perabotan seperti meja dan kursi.

“Iya benar bahwa Bapak Wahyu Setiawan pembeli di perumahan kami di Graha Permai Land itu sekitar 1 tahun lalu. Awalnya dia belinya satu rumah, kemudian beli dua kaveling lagi di sebelah kanan dan kirinya,” ujar General Manager Graha Permai Land, Kristiono Hadi Pranoto, Jumat (10/1/2020).

Ia juga membenarkan jika rumah tersebut belum dihuni secara permanen. Kristiono menyebut rumah itu beberapa kali ditinggali Wahyu Setiawan saat sedang pulang ke Banjarnegara.

“Jarang dihuni, paling kalau pulang dari Jakarta dia sering ke sini,” terangnya.

Kristiono menyebut perumahan miliknya merupakan perumahan termewah di Banjarnegara. Selain dekat dengan pusat perbelanjaan, perumahannya itu juga dekat dengan obyek wisata. Namun, dia tak mau membeberkan nilai harga properti di perumahan tersebut.

“Kalau perumahan ini merupakan yang paling mewah di Banjarnegara karena lokasinya strategis. Dekat dengan perbelanjaan nanti juga ada waterpark dan hotelnya,” katanya.

Jika ditilik dari laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) yang disetorkan Wahyu Setiawan pada 30 Maret 2019, dia memiliki harta total senilai Rp 12,8 miliar. Dalam LHKPN tersebut Wahyu mencatat memiliki 9 bidang tanah di Banjarnegara senilai Rp 3,3 miliar.

Bangunan dan tanah itu diakuinya diperoleh dari warisan. Belum diketahui apakah rumah mewah di Graha Permai Land ini termasuk yang dilaporkan Wahyu dalam LHKPN tersebut atau terkait dengan kasus suap yang sedang menjeratnya saat ini.

KPK resmi menetapkan Wahyu Setiawan sebagai tersangka pada Kamis (9/1) kemarin. Wahyu Setiawan diduga menerima suap terkait PAW anggota DPR dari PDIP.

Total ada empat tersangka yang ditetapkan, termasuk Wahyu, yaitu Agustiani yang diketahui sebagai mantan anggota Badan Pengawas Pemilu berperan menjadi orang kepercayaan Wahyu. Saeful yang hanya disebut KPK sebagai swasta dijerat sebagai pemberi suap bersama-sama dengan Harun Masiku.

Mantan Anggota dan Ketua KPU Makassar, Dr. Nurmal Idrus, mengaku cukup riskan jika seorang anggota KPU mempunyai kekayaan yang besar, meski dia seorang komisioner di KPU Pusat. “Sebab satu-satunya pendapatan seorang komisioner hanya dari gaji. Saya perkirakan gaji seorang komisioner seperti Pak Wahyu itu tak lebih dari Rp 40 juta per bulan,” kata Pendiri Lembaga Konsultan Politik, Nurani Strategic ini.

Apalagi, jika ia hanya seorang komisioner di tingkat kabupaten dan provinsi. “KPU Kabupaten itu menerima antara 10 – 12 juta sementara Provinsi menerima 18 – 20 juta. Jadi, jika seorang komisioner bisa hidup mewah maka itu pasti mencurigakan apalagi jika profilnya dia buka seorang pengusaha atau punya orang tua yang meninggalkan warisan miliaran,” tambahnya.

Nurmal mengaku jika mencari kekayaan maka bukan di KPU tempatnya. Lembaga ini lebih banyak pengabdiannya dan sebagai tempat belajar. “Komisioner itu hidupnya memang untuk mengabdian. Sebab untuk kaya bukan di sana. Waktu saya menjabat ketua KPU saja gaji saya hanya 5 juta per bulan. Saya tak bisa membeli apa apa,” ujarnya.

Setelah mengabdi lima tahun di KPU, Nurmal kemudian memutuskan berhenti dan mencari pekerjaan lain. Ia melanjutkan pendidikannya dan berhasil menyelesaikan S3 dan kemudian mengajar dibeberapa perguruan tinggi. “Peluang mulai terbuka setelah keluar dari KPU sebab sebagai komisioner kita dilarang untuk bekerja ganda. Saya kemudian menjadi konsultan politik dan menjadi komisaris pengawas di BUMD dan BLUD. Alhamdulillah, baru saat itu bisa hidup agak baik,” katanya terkekeh. (mal)

Share :

Baca Juga

Nasional

Dipagari karena Corona, Jamaah Dilarang Sentuh Kakbah

Politik

Di Depan PKB, Ini Cara Amirullah Nur Entaskan Kemiskinan di Maros

Utama

Andi Wahyu Gunawan, Mantan Korcam Akar Super yang Menang di Pilkades Ganra

Politik

Manuver Golkar dan Cerita Tentang Hoax yang Diinginkan

Daerah

Sterilisasi Kota, Ini yang Dilakukan Soppeng di Masa Jeda COVID 19

Utama

Gadis Bugis Ini Calon Keluarga Cendana. Dinikahi Anak Mbak Tutut

Kesehatan

Sudah Darurat, Pemerintah Sebut Sulsel Harus Dapat Perhatian Khusus. Apa Kabar Gubernur?

Utama

Radi A. Gany Wafat, Eks Demonstran AMPD Ini Sangat Kehilangan