Tuesday 27 September 2022
spot_img

Fenomena Awan Merah di Langit Soppeng, Ada Apa?

  • AWAN – Kabupaten Soppeng dipayungi awan merah nan indah, Jumat, 2 April 2021, petang. Sejumlah warga mengabadikan fenomena langka ini. (FOTO:IST)

CELEBESTERKINI.com, Soppeng – Warga Kabupaten Soppeng dikejutkan dengan munculnya awan merah yang memayungi daerah itu, Jumat, 2 April 2021, sore ini.

Beberapa warga menyebut, fenomena itu muncul sejak pukul 16.30 wita dan masih terlihat hingga jelang magrib. Warna merah makin memendar jelang matahari tenggelam di ufuk barat yang meninggalkan lukisan indah dan menakjubkan di langit Soppeng. Fenomena makin indah saat ratusan hewan khas Soppeng, Kalong, terbang di angkasa. “Saya kaget karena baru melihat fenomena ini. Dulu pernah ada tapi ini lebih lebar dan lebih indah,” kata Anggota DPRD Soppeng, Haji Ismail Haji Cedang, yang mengirimkan hasil rekaman fotonya ke celebesterkini.com, Jumat sore.

Fenomena itu bahkan lebih kentara terlihat di di wilayah timur Soppeng, sekitar Kecamatan Lilirilau. “Sangat indah dan baru terjadi,” ujar salah seorang warga Desa Kebo.

Awan merah yang indah di atas Kota Watansoppeng. (FOTO:HIHC)

Lantas, apa sebenarnya yang menjadi penyebab perubahan warna langit ini?

Penjelasan Astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo bisa menjadi penggambaran ketika peristiwa serupa terjadi di Jambi, beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan bahwa fenomena langit berwarna merah bukanlah disebabkan tingginya suhu atau pengaruh api. “Ini nampaknya fenomena Hamburan Rayleigh. Hamburan Rayleigh itu hamburan elastis pada cahaya oleh partikel-partikel mikro/nano di udara yang ukurannya lebih kecil dari panjang gelombang cahaya tampak,” ujar Marufin.

Marufin mengungkapkan bahwa fenomena ini umum dijumpai. Pasalnya, fenomena Rayleigh ini menjadi penyebab langit berwarna biru pada siang hari dan memerah kala senja atau fajar. “Dalam kasus seperti ini pernah terjadi di Jambi, kepadatan partikel-partikel mikro/nano di udara nampaknya cukup besar sehingga lebih padat ketimbang konsentrasi partikel pada udara normal,” ujar Marufin. “Karena lebih padat maka berkas cahaya Matahari yang melewatinya akan dihamburkan khususnya pada panjang gelombang pendek (spektrum biru dan sekitarnya) hingga medium (spektrum hijau dan sekitarnya),” kata dia. (Rian/mal)

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tetap Terhubung

512FansSuka
0PengikutMengikuti
26PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terpopuler

Komentar Terbaru