Saturday 10 December 2022
spot_img

Diserang Isu Seko, Gubernur NA Malah Dapat Simpati

Suasana diskusi dan peluncuran buku hak angket (foto: journalist)

MAKASSAR, CELEBESTERKINI-
Mantan anggota DPRD Sulsel Kadir Halid, mengkritik kebijakan Gubernur Nurdin Abdullah terkait berbagai kebijakan mengenai Seko, Luwu Utara. Kadir mengatakan jika anggaran kunjungan ke Seko tidak masuk dalam RPJMD Provinsi Sulsel. Sementara, anggaran yang digunakan dan diinvestasikan mencapai angka 60 milliar rupiah di Seko.

Hal itu terungkap dalam peluncuran dan diskusi Buku Hak Angket Kawal Demokrasi dirangkaikan dengan dialog dengan tema “Hak Angket Belum Usai”. Peluncuran buku itu berlangsung di Red Corner Cafe and Resto, depan Rujab Wakil Gubernur Sulsel di Jalan Yusuf Daeng Ngawing, kota Makassar, Senin (14/1).

Hadir mantan Ketua Komisi E Kadir Halid selaku Ketua Pansus Hak Angket, Anggota DPRD Sulsel Wawan Mattaliu (Anggota pansus hak angket), Tim Pakar Hak Angket AM Sallatu, Rusman M (Penulis Buku Hak Angket), Anggota DPRD Sulsel Armin M Toputiri selaku pengamat politik, Dosen Hukum Unhas Aminuddin Ilmar serta dipandu oleh budayawan Yasmin Ibrahim selaku moderator.

Selain itu, peluncuran buku tersebut juga dihadiri oleh berbagai elemen mulai dari penggiat buku, aktivis, dan wartawan, salah satunya wartawan senior Mulawarman. Agenda dialog berjalan cukup menarik.

Menanggapi pernyataan Kadir Halid salah satu peserta memprotes. Sebab masyarakat Seko yang selama ini dikenal sebagai daerah paling terisolir di Indonesia sangat berbahagia atas kunjungan Nurdin Abdullah termasuk pembukaan akses jalan.

“Bapak (Kadir Halid) ini telah melukai perasaan masyarakat Seko. Kalau bapak mengkritisi kunjungan pak Gubernur ke Seko dengan alasan anggaran Rp60 milliar, artinya bapak sudah melukai hati masyarakat yang sedang  berbahagia di Seko,” beber salah satu peserta yang menanggapi pernyataan Kadir Halid.
 
Disebutkan bahwa masyarakat di Seko itu belum pernah disentuh pemerintah. “Coba bapak bayangkan, anggaran Rp60 milliar kalau dihitung sejak tahun 1945 itu jumlahnya sangat sedikit. Jadi kalau bapak kritisi investasi itu, berarti bapak melukai masyarakat di sana pak,” tandas peserta tersebut.

“Kalau bapak bilang kunjungan ke Seko tidak ada dalam RPJMD, coba bapak baca visi-misi pak Gubernur poin 23. Di situ jelas tertuang bahwa tujuan pak Gubernur adalah melakukan pemerataan pembangunan infrastruktur dan menciptakan wilayah pertumbuhan ekonomi yang baru,” tambahnya seperti ditulis otonominews.

Pernyatan Kadir itu menurut dia justru akan berbalik menimbulkan simpati masyarakat Seko. Seperti diketahui, Gubernur Sulawesi Selatan, HM Nurdin Abdullah mendorong daerah Seko, Luwu Utara menjadi kota mandiri dan menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi baru di Sulsel. Konsep tersebut digulirkan berdasarkan dukungan dan potensi alam dengan wilayah yang luas serta posisi Seko yang strategis.

Seko ini merupakan kawasan segi tiga emas (golden triangle location) yang menghubungkan Provinsi Sulawesi Barat melalui Mamuju dan Sulawesi Tengah melalui Sigi, Palu.

Untuk merealisasikan program tersebut, Pemprov Sulsel kini membangun akses jalan Sambang-Seko sepanjang 130 km.

Progres terakhir jalan tersebut sebagian sudah diaspal dan selebihnya sudah dilakukan pemadatan, sebagian pembukaan sehingga akses ke Seko saat ini sudah bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat yang sebelumnya hanya dapat ditempuh dengan motor. Dan, sebelumnya, di daerah itu dikenal dengan ojek motor-nya yang termahal di dunia, yakni Rp1-2 juta dengan jarak tempuh berhari-hari.

Kondisi tersebut sebelumnya mengakibatkan harga sembilan bahan pokok dan barang kebutuhan lainnya sangat tinggi. Kini setelah 74 tahun,  masyarakat Seko sudah dapat menikmati akses jalan yang sedang dikerjakan yang langsung berpengaruh terhadap harga barang kebutuhan pokok masyarakat di Seko yang relatif sudah stabil dan terjangkau. (mg2/mal)

Artikel Terkait
- Advertisment -

Tetap Terhubung

512FansSuka
0PengikutMengikuti
26PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terpopuler

Komentar Terbaru