Tuesday 06 December 2022
spot_img

Cara Adnan

Hati Bupati Gowa Adnan Puritcha Ichsan dalam pekan ini begitu gusar. Sebuah perhelatan internasional dengan jumlah peserta ribuan orang menjadikan kabupaten yang dipimpinnya itu sebagai lokasi acara.

Bertajuk Ijtima Ulama Dunia 2020 Zona Asia, rencananya digelar di Kompleks Darul Ulum, Kecamatan Bontomarannu, Gowa. Pakkatto, Gowa, Sulawesi Selatan, pada 19 sampai 22 Maret. Acara itu dikabarkan melibatkan peserta dari 48 negara.

Penyelenggara Ijtima Dunia 2020 Zona Asia ini sebelumnya menyelenggarakan Tabligh Akbar di Masjid Sri Petaling, Malaysia pada 28 Februari hingga 1 Maret 2020. Dalam Tabligh Akbar tersebut, sedikitnya 696 warga negara Indonesia (WNI) menjadi peserta. Tabligh Akbar itu juga diikuti oleh 12 orang positif corona.

Dan karena Corona itulah membuat kepala sang pemimpin mumet. Padahal, efek dari kegiatan sungguh luar biasa. Dengan peserta yang mencapai belasan ribu orang, Gowa seperti mendapat durian runtuh terutama dari sisi ekonomi. Bayangka betapa banyak mulut yang harus dikasi makan dan berapa banyak kamar yang dibutuhkan untuk sekedar melepas lelah. Efek paling terasa adalah peningkatan pendapatan warga di sekitar lokasi acara.

Namun, Bupati Adnan mengabaikan semuanya. Ia memilih melupakan keuntungan ganda itu dengan berkeras untuk tak memberikan izin kepada panitia. Sejak sepekan lalu, Adnan sudah memperingatkan panitia agar membatalkan atau setidaknya menunda perhelatan itu.

Namun, panitia berkeras. Pasalnya, ribuan peserta sejatinya sudah berada di Sulsel dan di Indonesia jauh hari sebelum peringatan bahaya Corona sampai di Indonesia. Peserta dari berbagai daerah ternyata sudah melakukan ‘long march’ dengan melakukan dakwah pendahuluan diberbagai daerah di Sulsel. Mereka berkeliling kampung dan menginap di masjid-masjid. Panitia kesulitan untuk berkomunikasi dengan mereka.

Mengetahui itu Bupati yang berusia muda dan baru saja berulang tahun ke-34 tanggal 9 Marer 2020 lalu, tak ngotot melarang. Pendekatan persuasif dijalankan dengan melakukan lobi intensif dengan semua pemimpin jamaah. Bersama Forkopimda Gowa, Adnan membiarkan ribuan jamaah itu memasuki Gowa. Sebelumnya, ada usulan yang masuk kepadanya agar Gowa menerapkan ‘lockdown’ sementara dengan menutup perbatasannya mencegah jamaah masuk.

Adnan tak melakukan itu. Saat sebagian besar jamaah masuk ke lokasi acara, Selasa – Rabu (17-18/3/2020), ia memerintahkan aparat kesehatannya melakukan sterilisasi jamaah. Adnan tahu sia-sia mengadang mereka di jalan. Niat jamaah yang berjuang di jalan Allah, tentu tak bisa dihalangi. Cara persuasif itu kemudian dilanjutkan dengan mendorong seluruh pemimpin jamaah berdialog dengan peserta. Rabu (18/3) siang, saat ketegangan memuncak, Adnan malah membiarkan kondisi itu. Ia seakaan mengetuk hati pemerintahan di atasnya bahwa ini bukan masalah Gowa semata. Adnan tak mau terpancing dengan provokasi berita berbagai media yang terus menyerang keberadaan acara itu termasuk potensi penyebaran COVID -19. Belakangan diketahui pemerintah pusat yang ikut khawatir mengirim Mendagri Tito Karnavian dan Kepala BNPB Doni Monardo ikut melobi panitia.

Di tengah puncak ketegangan itu, Adnan terus melakukan lobi intensif dengan pendekatan hati. Rabu malam, saat semua media masih memberitakan gelombang jamaah yang terus masuk ke lokasi acara, Adnan tampil santai di lama IG nya.

Generasi ketiga trah Yasin Limpo ini bahkan terlihat sangat santai di meja kerjanya di Rujab Bupati Gowa di Sungguminasa. Memakai sarung, bersandal jepit dan berkaos oblong, Adnan berkomunikasi dengan pimpinan jamaah yang memutuskan membatalkan acaranya. Menggunakan fasilitas video call dari tempat acara, sang ulama menyatakan permohonan maaf dan tak akan melanjutkan acaranya.

Adnan kemudian terlihat suprise dengan menyebut alhamdulillah berkali-kali ketika pemimpin acara itu menyatakan bahwa acaranya ditunda. Adnan menyatakan akan menanggung semua transportasi ribuan peserta itu sampai ke bandara plus segala fasilitas lain yang mereka butuhkan. Selain itu, Adnan memastikan tak akan ada jamaah pulang dengan kondisi sakit atau suspect corona. Ia akan melakukan tindakan berupa pengaktifan protokol pencegahan yang telah disampaikan pemerintah.

Cara Adnan menyelesaikan persoalan di wilayahnya dianggap melebihi ukuran umurnya yang masih millenial. Laman IG nya dibanjiri pujian dan rasa hormat. Sebelum dilantik pada medio 2016 silam, banyak yang menyatakan ragu dengan kemampuannya mengendalikan Gowa yang memiliki penduduk terbesar ketiga di Sulsel setelah Makassar dan Bone. Ini wajar karena saat dilantik ia masih berusia 29 tahun. Tapi cara caranya memimpin di empat tahun terakhir menjawab semua keraguan itu.

Maka, seungguhnya tak ada yang salah ketika publik menjagokannya meneruskan trah kepemimpin pamannya Syahrul Yasin Limpo di Sulsel. Kepemimpinannya menyejukkan dan meredam potensi konflik yang selama ini terus memayungi perpolitikan Gowa. Pemerintahannya tak gaduh dan berjalan dengan mulus. Adnan menyelesaikan semuanya dengan gentleman dan berkharisma. (mal)

Artikel Terkait
- Advertisment -

Tetap Terhubung

512FansSuka
0PengikutMengikuti
26PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terpopuler

Komentar Terbaru