Saturday 10 December 2022
spot_img

Beras Soppeng

Pandemi COVID19 menyikut kiri kanan dan melahirkan efek tak terperikan terutama di sektor ekonomi.

Perusahaan bertumbangan, memaksa mereka merumahkan pekerjanya bahkan melakukan PHK. Maka, timbullah kemiskinan baru karena kehilangan mata pencaharian. Seorang pengamat ekonomi menyatakan dampak virus laknat ini bahkan bisa melebihi krisis 1998.

Namun sekali lagi sektor pertanian memperlihatkan ketahanannya. Di saat kaum perkotaan merasakan deraan teramat sangat, dibeberapa wilayah Indonesia dan terutama di Sulsel memasuki masa panen raya di tengah perjuangan melawan COVID19. Wilayah yang terdampak coronavirus seperti Kabupaten Soppeng, kini juga memasuki masa panen. Rahmat Allah seperti menyelimuti petani wilayah ini di tengah pandemi karena kegagalan panen seperti fuso, hama dan cuaca yang saban tahun menghantui, kini tidak datang tahun ini.

Petani di Soppeng lebih ceria dan menyambut hasil melimpah di tengah teriakan papa dan merana jutaan penduduk negeri yang terimbas Corona. Suasana riang gembira menyelimuti seantero Soppeng. Petani lebih bersemangat, passangki sumringah dan pedagang pengepul gabah antusias.

Namun, di tengah euforia itu ada perubahan drastis cara penanganan panen, yang justru menyumbang tambahan kemiskinan baru. Mesin-mesin pertanian mulai menggerus kekuatan jari-jari tangan passangki. Pa’deros mulai menggeser kekuatan bantingan dan empasan batang padi passangki dan.. taxi trail yang melumpuhkan entakan kaki kuda patteke. Tak berhenti disitu, dryer pemanas yang dulu hanya untuk mengeringkan rambut kini juga tampil menggantikan peran buruh pangesso gaba’ yang selama ini rela memanggang kulit mengeringkan gabah di tengah lapang. Apapun itu, inilah modernisasi yang harus diterima dan dihadapi. Modernisasi itu mengorbankan ribuan passangki atau buruh potong padi, buruh pengesso gaba’ yang terpaksa harus kehilangan pekerjaan.

Namun, harus diakui modernisasi pertanian ini memudahkan, mengefektifkan dan mengefisienkan. Buat apa terus bertahan pada cara panen tradisional jika itu tak membuat efisien dan efektif. Di tengah kerasnya kehidupan zaman, para petani itu berhak memilih cara penanganan panennya yang mereka anggap jauh lebih murah meski kemudian harus meminggirkan segelintir kalangan yang selama ini menggantungkan hidup di masa panen.

Walau untuk itu semua, nilai-nilai pengolahan pertanian tradisional yang selama ini membuat Soppeng menjadi terdepan dalam pertanian akhirnya harus tergerus dan terkalahkan. Nilai-nilai yang membuat saya, anda dan kita semua memahami betapa sulitnya mengolah benih menjadi padi lalu menjadi gabah dan kemudian menjadi beras.

Nilai-nilsi itu membuat kita orang Soppeng adalah warga paling menghormati sebutir nasi yang tertinggal di atas piring seusai bersantap. Nilai-nilai yang membuat kita anak rantau selalu mencari cara untuk bekerja keras agar tak membebani orang tua di kampung. Nilai-nilai yang selama ini menjadikan produk beras kita sangat terkenal dan selalu dicari orang: BERAS SOPPENG.

Dr. Nurmal Idrus, MM
CEO PT. Terkini Media Com
Penerbit Celebesterkini.com

Redaksi:
Jalan Topas Raya, G/4, Boulevard, Panakkukang.

Artikel Terkait
- Advertisment -

Tetap Terhubung

512FansSuka
0PengikutMengikuti
26PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terpopuler

Komentar Terbaru