Monday 26 September 2022
spot_img

Belajar Cara Surabaya Menekan Pengemis Jalanan di Makassar

  • PENGEMIS – Pengemis dan gelandangan adalah masalah sosial di Kota Makassar yang tak kunjung selesai. Kota ini perlu belajar dari cara Surabaya yang sukses menuntaskannya. (FOTO:IST)

CELEBESTERKINI.com, Makassar – Membandingkan Kota Surabaya di Jawa Timur dengan Kota Makassar tentu sangat jauh. Dari semua sisi, pengelolaan Kota Surabaya jauh meninggalkan Makassar.

Perbedaan paling menyolok bisa dilihat dari pengelolaan kebersihan dan keindahan kota serta penanganan masalah sosial kemasyarakatan seperti gelandangan dan pengemis.

Anggota DPRD Makassar, Ari Ashari Ilham

Di Surabaya, saat ini kita akan sulit menemukan lagi gelandangan dan pengemis. Bersih, sebersih kotanya. Sementara di Makassar, nyaris setiap sudut kota dipenuhi kalangan ini. Kondisi ini tak pelak menimbulkan banyak keluhan.

Anggota DPRD Kota Makassar Ari Azhari Ilham menanggapi keluhan masyarakat terkait dengan banyaknya pengemis dan gelandangan di kota makassar yang membuat resah hingga sedikit mengganggu aktivitas masyarakat. Ia menilai persoalan ini sebenarnya telah diatur dalam peraturan daerah yang dibentuk DPRD bersama pemerintah kota Makassar, mulai dari pembinaan dan penindakan. “Terkait keluhan soal gelandangan dan pengemis, sebenarnya ada perda di kota makassar yang mengatur terkait ini, perda yang telah dibentuk DPRD bersama pemerintah kota telah mengatur sedemikian rupa mulai dari pembinaan hingga penindakan khusus kepada masyarakat,” kata politisi Partai Nasdem ini saat menggelar kegiatan Sosialisasi Perda No. 2 Tahun 2008 tentang Pembinaan Anak Jalanan, Gelandangan, Pengemis dan Pengamen di Kota Makassar, Rabu (31/03/2021) di Almadera Hotel Kota Makassar.

Kepala Bidang Gakum Satpol PP Irwan menghimbau agar tidak memberi apapun mau itu uang atau barang lainnya kepada anak jalanan hingga pengamen, dan pengemis sebagai bentuk tidak mendukungnya kegiatan tersebut. “Kami menghimbau kepada masyarakat, agar jangan memberi uang di jalan kepada anak jalanan, pengemis , pengamen. Karna apabila dikasi, sama dengan kita mensupport anjal gepeng ini semakin semangat turun dijalan,” tegasnya.

Bagaimana Surabaya Menangani Masalah Ini

Wali Kota Surabaya dua periode, Tri Rismaharini, yang diberi amanah Presiden Joko Widodo (Jokowi), menjadi menteri sosial, pernah menyatakan, ”Pokoknya tidak ada nego, pengemis ketangkap langsung dibawa ke Liponsos”.

Salah satu sudut Kota Surabaya. Selain bersih dan sejuk, tak ditemukan lagi pengemis dan gelandangan. (FOTO: CELEBESTERKINI.COM)

Liponsos adalah lingkungan pondok sosial, dibangun oleh Pemkot Surabaya. Tugas Liponsos melaksanakan rehabilitasi sosial para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti gelandangan, pengemis, eks psikotik, lansia terlantar, anak jalanan.

Mereka yang dalam keadaan sehat, setelah dibina di Liponsos, dipulangkan ke daerah asalnya. Upaya tersebut tidak mudah, tetapi dibutuhkan tekad kuat, bahwa mereka harus dientas kekehidupan lebih baik.

Liponsos yang berada di Keputih, Kecamatan Sukolilo, Surabaya, bisa menampung 600 orang. Bahkan beberapa kali over load, seperti pada awal tahun 2020, penghuni Liponsos mencapai 1.000 orang lebih.

Sejak awal kepemimpinannya, Risma, panggilan akrab Tri Rismaharini, bekerja keras untuk membersihkan kotanya dari kaum gelandangan, pengemis, anak jalanan, dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dari jalanan kota ini.

Untuk mempercepat penanganan, Risma membentuk Tim Cobra. Tim yang bekerja sama dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) ini, bertugas merazia para gelandangan, pengemis, dan ODGJ yang berkeliaran di jalanan.

Mereka yang tertangkap, selanjutnya dibawa ke Liponsos. Yang masuk kategori waras, kemudian diberikan ketrampilan dan praktik langsung serta menghasilkan handicraft (hasil kerajinan/ketrampilan). Produk yang dihasilkan, kemudian dipamerkan dan dipasarkan. Langkah tersebut untuk pemberdayaan ekonomi.

Sedangkan yang masuk ODGJ disembuhkan mentalnya dengan cara memfasilitasi rawat jalan dan rawat inap ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur, Surabaya dan RSJ Lawang, Malang.

Liponsos Surabaya, rata-rata berhasil memulangkan 60 penyandang ODGJ setiap bulannya yang sudah sembuh ke daerah asalnya. Sumber biaya dari APBD Surabaya untuk penanganan ODGJ pada 2019 sebesar Rp 19 miliar. Biaya tersebut untuk operasional, pembelian obat-obatan, konsumsi, pembelian pakaian ODGJ, dan pembayaran tenaga kontrak. (*/MAL)

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tetap Terhubung

512FansSuka
0PengikutMengikuti
26PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terpopuler

Komentar Terbaru