Connect with us

Internasional

Akomodasi di Luar ‘Markaziyah Syimaliyah’, Kredibilitas Travel Dipertaruhkan

CELEBESTERKINI.com, Madinah – Fasilitas menjadi salah satu yang dijanjikan sebagai sesuatu yang khusus bagi jamaah haji yang berstatus ONH Plus. Dengan membayar biaya berkali-kali lipat dibanding ONH Reguler, apakah fasilitas itu benar-benar mereka dapatkan?

Dr. Nurmal Idrus, MM – Madinah

Rabu, 13 Juli 2023, Celebsterkini.com bertemu dengan seorang anggota parlemen dari Sulsel berinisial H, di Pelataran Masjid Nabawi, ba’da Dhuhur. Ia langsung mengeluhkan fasilitas hotel di Madinah yang menurutnya tak sesuai dengan travel janjikan ketika masih di Makassar. “Katanya bintang lima dan tak jauh dari pintu Nabawi, kenyataannya hanya bintang 4 dan agak jauh dari Nabawi,” katanya, sambil meminta namanya dan travel itu tak disebutkan.

Bersama dengan jamaah lainnya, sang legislator awalnya mempersoalkan itu kepada pengelola travel. Tetapi, seribu alasan diberikan. “Katanya, pemilih hotel ingkar janji atau mohon maaf karena tiba-tiba kamar sebelumnya sudah ada tempati” katanya.

Kredibilitas travel memang dipertaruhkan jamaah khusus yang telah membayar mahal ini. Jika dihitung total, fasilitas akomodasi yang dijanjikan travel kepada jamaah khususnya, nyaris sama. Hotel bintang lima di Makkah dan Madinah, plus apartemen di transit. Jika dihitung total, jamaah haji khusus akan melakukan lima kali pergantian akomodasi selama di tanah suci. Kelimanya adalah hotel setaraf bintang 5 di Makkah dan Madinah, tenda khusus di Arafah, maktab khusus di Mina dan hotel transit.

Tetapi karena bisnis ini dijalankan dengan manajemen dan perhitungan ekonomi yang ketat, maka nyaris seluruh travel berupaya keras menekan biaya operasional mereka. Masalahnya, komponen akomodasi biasanya menjadi sasaran penghematan yang mengakibatkan tak sesuainya janji akomodasi dengan jamaah sebelum berangkat.

Seorang pengelola travel perjalanan haji dan umrah menyebut, komponen pesawat terbang dan akomodasi menjadi sektor paling besar menyedot anggaran. Maka, wajar jika kemudian kedua komponen ini menjadi sasaran penghematan. “Salah satu cirinya adalah penerbangannya biasa transit dan hotelnya bukan di depan Masjidil Haram di Makkah atau Nabawi di Madinah.

Catatan Celebesterkini.com, keluhan akomodasi hampir tak terdengar di Makkah. Semua sesuai dengan kesepakatan. Masalah ini mulai nyaring ketika tiba di Madinah. Sejumlah travel menurunkan grade bintang hotel yang ditempati. Itulah yang terjadi dengan apa yang dialami oleh sang legislator di atas.

Namun, berdasarkan penelusuran Celebsterkini.com selama di Madinah, sebagian besar jamaah khusus dari Indonesia sebenarnya telah mendapat akomodasi terbaik di kota suci ini. Ribuan jamaah plus itu menempati hotel dengan posisi terbaik di wilayah yang dikenal dengan Markaziyah Syimaliyah.

Untuk diketahui, status Markaziyah Syimaliyah disematkan kepada hotel di Madinah yang masuk dalam jajaran elit. Dari ratusan bahkan ribuan hotel di Madinah, status elit tersebut hanya diberikan kepada 16 hotel saja.

Wilayah itu adalah ring satu Masjid Nabawi. Bahkan ada hotel di area itu yang lobby-nya langsung terhubung dengan pintu pagar Nabawi. Kamar-kamarnya menghadap langsung pintu masjid yang dibangun Nabi Muhammad SAW itu. Tetapi, ada juga sejumlah hotel yang berada di pinggir pagar Nabawi tak masuk dalam jajaran elit ini karena fasilitas mereka yang dianggap belum bintang 5.

Ada 16 hotel yang masuk dalam ring satu atau wilayah Markaziyah itu. Hotel itu antara lain, Madinah Milenium Aqeeq, Movenpick, Frontel Al Harithia, Madinah Aqeeq, Dar Al Iman Intercontinental, Dallah Taibah, Maden Hotel, Al Ritz Madinah, Anwaar Madinah Movenpick, Hilton, OBeroi, Leader Almuna Kareem, Shahd Madinah by Accor, AIRawda Royal Inn, dan Concorde Dar Al Khair.

Rombongan SISI Utama Tour & Travel yang berbasis di Makassar menempatkan 94 jamaahnya di salah satu dari 16 hotel terbaik itu. Namanya, Dallah Taibah. Hotelnya sebenarnya hotel lama, namun posisinya sangat strategis karena hanya berjarak sepelemparan batu ke pintu pagar Nabawi, telah di pintu 25.

H. Amirullah, salah seorang jamaah asal Makassar sempat ditemui CELEBESTERKINI.com, beberapa saat setelah tiba di Madinah pada, Senin lalu. Pengusaha pertambangan ini menjalani ibadah haji 1444 H tahun ini dengan fasilitas via Furoda VVIP di Travel Dream Tour. Sementara sejumlah keluarganya yang lain di Maktour. Ia kemudian mengajak ke hotelnya di Hilton Madinah. Hotel ini hanya berjarak beberapa langkah dari pintu utama Nabawi.

Kamarnya menakjubkan. Selain dilengkapi bathup, kamarnya juga super ekslusif dengan kelengkapan perangkat teknologi di hotel bintang 5.

Di Dallah Taibah, dimana Celebesterkini.com menginap, fasiltas juga tak jauh beda dengan Hilton. Meski kesan hotelnya jadul, namun karena posisinya strategi di muka Nabawi, maka hotel ini juga masuk dalam area ring satu tadi.

Namun, semua fasilitas itu tidaklah murah. “Di ring satu itu harga per kamar bisa mencapai Rp 10 – 15 juta per malam. Itu sudah paket termasuk tiga kali makan,” kata salah seorang pengelola travel. Harga itu terkonfimasi benar ketika Celebesterkini.com, mengecek di aplikasi pemesanan hotel Traveloka. Harga yang dicantumkan di musim low season sudah mencapai Rp 3.500.000 – Rp 5.000.000 per malam di Dallah Taibah, dan Rp 4.000.000,- Rp 7.000.000,- per malam di Hilton. Angka itu adalah harga dasar karena belum termasuk paket makan dan saat bukan musim haji. “Musim haji begini berkali-kali lipat harganya,” katanya.

Perlu Diketahui, hotel-hotel yang berada di wilayah markaziyah atau seputaran Masjid Nabawi, pengisian kapasitas kamarnya ditentukan oleh Pemerintah Arab Saudi.
“Setiap hotel memiliki tasrih (izin) yang mencantumkan kapasitas orang dalam setiap kamar. Penentuan itu dilakukan oleh Pemerintah Arab Saudi, bukan oleh kami,” tegas Zaenal Muttaqin, Kepala Daerah Kerja Urusan Haji, Kemenag RI, Madinah, Rabu.

Menurutnya, kapasitas setiap hotel bisa berbeda-beda. Ada hotel yang mendapatkan izin untuk mengisi satu kamar dengan 5 orang, ada juga yang izinnya mengisi satu kamar dengan 4 orang, bahkan ada yang hanya boleh mengisi satu kamar dengan 3 orang. “Penentuan kapasitas maksimal tersebut bergantung pada izin yang diberikan oleh Pemerintah Arab Saudi kepada hotel-hotel di wilayah markaziyah. Kami berusaha maksimal untuk menyiapkan hotel-hotel jemaah yang berlokasi dekat dengan Masjid Nabawi,” tambahnya.

Dia menjelaskan, penentuan akomodasi atau tempat tinggal bagi jemaah haji selama di Madinah didasarkan pada aturan. Ada dua dasar hukum yang mengatur akomodasi jemaah haji reguler, yaitu Undang-Undang No 8 tahun 2019 tentang penyelenggaraan ibadah haji dan umrah pasal 39, serta Peraturan Menteri Agama (PMA) 13 tahun 2021 tentang penyelenggaraan ibadah haji reguler pasal 72.

Dalam kedua dasar hukum tersebut, disebutkan bahwa akomodasi bagi jemaah haji reguler harus memenuhi standar kelayakan dengan memperhatikan aspek kesehatan, keamanan, dan kemudahan akses jemaah ke Masjid Nabawi. “Jemaah haji harus ditempatkan di hotel-hotel yang terletak di sekitar Masjid Nabawi atau wilayah markaziyah, sesuai dengan dua dasar hukum tersebut. Akses jemaah ke Masjid Nabawi harus dekat,” ujar Zaenal.

Oleh karena itu, Kementerian Agama selalu berupaya maksimal agar jemaah haji Indonesia mendapatkan tempat tinggal di hotel-hotel yang berada di wilayah markaziyah. “Wilayah markaziyah ini sangat dekat dengan Masjid Nabawi. Bahkan, hotel yang ditempati jemaah haji Indonesia tahun ini, jaraknya paling dekat dengan Masjid Nabawi hanya 50 meter untuk khusus, dan yang paling jauh tidak lebih dari 1.000 meter atau 1 kilometer,” terangnya.

Di sisi lain, ia juga menyebut, yang perlu dipahami bersama ada perbedaan penentuan akomodasi di Madinah dan Mekkah.

Di Madinah sistemnya blocking time, tidak bisa full musim seperti di Makkah. Zaenal mengaku menerima masukan apapun dari pihak pengawas termasuk DPR RI terkait pelaksanaan haji. “Ini menjadi evaluasi untuk kebaikan bersama, tapi tentu harus disesuaikan dengan kondisi Madinah,” ungkapnya. (*/Mal)

Continue Reading

Trending